Aug 15, 2009

MENIMBANG GELAR PAHLAWAN BAGI RATU KALINYAMAT


MENIMBANG GELAR PAHLAWAN BAGI RATU KALINYAMAT

RAINHA DE JAPARA, SENHORA PODEROSA E RICA, DE KRANIGE DAME

Pahlawan, sebuah kata yang begitu agung sehingga hanya sedikit sekali orang orang yang bisa menjadi menyandangnya. Indonesia memiliki jumlah pahlawan paling banyak dibanding negara manapun di dunia, pahlawan di negara ini memiliki berbagai macam gelar,seperti pahlawan Nasional, pahlawan tak di kenal, pahlawan tanda tanda jasa,pahlawan revolusi, pahlawan reformasi dan lain lain hingga gelar paling buncit pahlawan kesiangan. Hampir setiap peristiwa memiliki pahlawannya sendiri, tanpa kecuali pahlawan kesiangan. Pahlawan kita yang satu ini bukan cuma sekedar olok olokan namun juga bisa menjadi kritik untuk pemerintah yang selalu kesiangan memberi gelar pahlawan pada tokoh tokoh yang telah berjasa pada Republik ini. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana pada tahun 2008 gelar pahlawan disematkan pada 2 tokoh nasional yaitu Bung Tomo dan M Natsir, bagaimana mungkin pemerintah terlambat memberi gelar pahlwan pada tokoh tokoh yang menghiasi lembar sejarah perjuangan bangsa tersebut yang bahkan nama nama mereka kita kenal melalui buku buku sejarah sejak bangku sekolah.

Sebuah kenyataan atau mungkin syarat mutlak yang harus dihadapi oleh setiap calon pahlawan yang ingin menjadi pahlawan dan menjadi terkenal, kisahnya masuk buku buku sejarah, dan fotonya di pampang di mana mana adalah kematian. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia seorang pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani. Dalam aturan resmi Indonesia, pahlawan nasional Indonesia adalah: warga negara RI yang gugur dalam perjuangan-yang bermutu-dalam membela bangsa dan negara dan warga negara RI yang berjasa membela bangsa dan negara yang dalam riwayat hidup selanjutnya tidak ternoda oleh suatu perbuatan yang membuat cacat nilai perjuangannya. Di Indoensia sangat mustahil seoerong yang masih hidup bisa mendapat gelar pahlwan nasional walaupun dalam Peraturan Presiden Nomor 33/1964 tentang penetapan penghargaan dan pembinaan terhadap Pahlawan hal tersebut mungkin dilakukan.

Beberapa pahlawan yang kita kenal memang begitu luar biasa jasa dan pengorbanannya, walaupun tanpa mengecilkan dan merendahkah mereka, harus kita sadari bahwa sebagian dari mereka berjuang dalam lingkup lokal dan berjuang jauh sebelum kemerdekaan indonesia di kumandangkan atau bahkan sebelum sumpah pemuda tahun 1928 yang dipercaya sebagai awal mula lahirnya Kata Indoensia sebagai identitas bangsa yang dulu masih memakai Hindia Belanda atau Nusantara. Hal tersebut menurut saya menimbulkan pertanyaan besar bagi saya karena jika menilik dari kisah perjuangan para pahlawan kita maka ada satu kesamaan yang sangat mendasar yaitu mereka menghadapi lawan yang sama, dalam hal ini adalah bangsa bangsa asing yang datang menjajah. Harus diakui bahwa perjuangan para pahlawan kita waktu itu masih bersifat lokal dan terbatas pada daerahnya masing masing sehingga apa yang mereka perjuangkan juga kepentingan daerah mereka masing masing. Oleh karena itu seseorang mungkin dapat menjadi pahlawan untuk daerahnya tapi mungkin tidak bagi daerah lain.

Seorang pahlawan adalah pejuang sejati, seorang pemberani yang bersedia mengorbankan segalanya demi bangsa dan Negara atau daerahnya. Mereka pada umunya adalah pemimpin dan tokoh masyarakat yang mempunyai jasa luar biasa bagi banyak orang. Sebagai warga Jepara timbul pemikiran sekaligus pertanyaan apakah Ratu Kalinyamat berhak menyandang gelar pahlawan, jika anda bertanya pada orang Jepara maka sudah pasti jawabnya Ratu Kalinyamat adalah pahlawan bagi mereka namun jawaban yang berbeda munkin bisa anda dapatkan jika anda bertanya pada penduduk daerah lain. Untuk memutuskan apakah Ratu Kalinyamat berhak menyandang gelar pahlawan atau tidak maka kita harus mengetahui kisah hidup Ratu Kalinyamat serta jasa apa saja yang telah beliau berikan.

Ratu Kalinyamat

Ratu Kalinyamat adalah putri Sultan Trenggana yang menjadi bupati di Jepara. Ia terkenal di kalangan Portugis sebagai sosok wanita pemberani. Nama asli Ratu Kalinyamat adalah Retna Kencana, putri Sultan Trenggana raja Demak (1521-1546). Pada usia remaja ia dinikahkan dengan Pangeran Kalinyamat (hadiri). Pangeran dan Ratu Kalinyamat memerintah bersama di Jepara. Tjie Hwio Gwan, sang ayah angkat, dijadikan patih bergelar Sungging Badar Duwung, yang juga mengajarkan seni ukir pada penduduk Jepara. Namun setelah tewasnya Sultan Trenggono dalam Ekspedisi Militer di Panarukan Jawa Timur pada tahun 1546, timbulnya geger perebutan tahta kerajaan Demak yang berakhir dengan tewasnya Pangeran Hadiri oleh Aryo Penangsang pada tahun 1549.

Kematian orang-orang yang dikasihi membuat Ratu Retno Kencono sangat berduka dan meninggalkan kehidupan istana untuk bertapa di bukit Danaraja. Setelah terbunuhnya Aryo Penangsang oleh Sutowijoyo, Ratu Retno Kencono bersedia turun dari pertapaan dan dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar NIMAS RATU KALINYAMAT.

Serangan Pertama Ratu Kalinyamat pada Portugis

Ratu Kalinyamat kembali menjadi bupati Jepara. Setelah kematian Arya Penangsang tahun 1549, wilayah Demak, Jepara, dan Jipang menjadi bawahan Pajang yang dipimpin Sultan Adiwijaya sebagai raja. Meskipun demikian, Sultan tetap memperlakukan Ratu Kalinyamat sebagai tokoh senior yang dihormati. Ratu Kalinyamat sebagaimana bupati Jepara sebelumnya (Pati Unus), bersikap anti terhadap Portugis. Pada tahun 1550 ia mengirim 4.000 tentara Jepara dalam 40 buah kapal memenuhi permintaan sultan Kerajaan Johor untuk membebaskan Malaka dari kekuasaan bangsa Eropa itu.

Pasukan Jepara itu kemudian bergabung dengan pasukan Persekutuan Melayu hingga mencapai 200 kapal perang. Pasukan gabungan tersebut menyerang dari utara dan berhasil merebut sebagian Malaka. Namun Portugis berhasil membalasnya. Pasukan Persekutuan Melayu dapat dipukul mundur, sementara pasukan Jepara masih bertahan. Baru setelah pemimpinnya gugur, pasukan Jepara ditarik mundur. Pertempuran selanjutnya masih terjadi di pantai dan laut yang menewaskan 2.000 prajurit Jepara. Badai datang menerjang sehingga dua buah kapal Jepara terdampar kembali ke pantai Malaka, dan menjadi mangsa bangsa Portugis. Prajurit Jepara yang berhasil kembali ke Jawa tidak lebih dari setengah dari yang berhasil meninggalkan Malaka. Ratu Kalinyamat tidak pernah jera. Pada tahun 1565 ia memenuhi permintaan orang-orang Hitu di Ambon untuk menghadapi gangguan bangsa Portugis dan kaum Hative.

Serangan Kedua Ratu Kalinyamat pada Portugis

Pada tahun 1564 Sultan Ali Riayat Syah raja Aceh meminta bantuan Demak untuk menyerang Portugis di Malaka. Saat itu Demak dipimpin seorang bupati yang mudah curiga, bernama Arya Pangiri, putra Sunan Prawata. Utusan Aceh dibunuhnya. Akhirnya, Aceh tetap menyerang Malaka tahun 1567 meskipun tanpa bantuan Jawa. Serangan itu gagal.Pada tahun 1573 sultan Aceh meminta bantuan Ratu Kalinyamat untuk menyerang Malaka kembali. Ratu mengirimkan 300 kapal berisi 15.000 prajurit Jepara. Pasukan yang dipimpin oleh Ki Demang Laksamana itu baru tiba di Malaka bulan Oktober 1574. Padahal saat itu pasukan Aceh sudah dipukul mundur oleh Portugis. Pengiriman armada militer kedua ini di pimpin oleh panglima terpenting dalam kerajaan yang disebut orang Portugis sebagai “QUILIMO”. Pasukan Jepara yang terlambat datang itu langsung menembaki Malaka dari laut. Esoknya, mereka mendarat dan membangun pertahanan. Tapi akhirnya, pertahanan itu dapat ditembus pihak Portugis. Sebanyak 30 buah kapal Jepara terbakar. Pihak Jepara mulai terdesak, namun tetap menolak perundingan damai karena terlalu menguntungkan Portugis. Sementara itu, sebanyak enam kapal perbekalan yang dikirim Ratu Kalinyamat direbut Portugis. Pihak Jepara semakin lemah dan memutuskan pulang. Dari jumlah awal yang dikirim Ratu Kalinyamat, hanya sekitar sepertiga saja yang tiba di Jawa.

Meskipun dua kali mengalami kekalahan, namun Ratu Kalinyamat telah menunjukkan bahwa dirinya seorang wanita yang gagah berani. Bahkan Portugis mencatatnya sebagai “rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige Dame, yang berarti "Ratu Jepara seorang wanita yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani". Walaupun akhirnya perang kedua ini yang berlangsung berbulan-bulan tentara Kalinyamat juga tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka, namun telah membuat Portugis takut dan jera berhadapan dengan Raja Jepara ini, terbukti dengan bebasnya Pulau Jawa dari Penjajahan Portugis di abad 16 itu.

Sebagai peninggalan sejarah dari perang besar antara Jepara dan Portugis, sampai sekarang masih terdapat di Malaka komplek kuburan yang di sebut sebagai Makam Tentara Jawa. Selain itu tokoh Ratu Kalinyamat ini juga sangat berjasa dalam membudayakan SENI UKIR yang sekarang ini jadi andalan utama ekonomi Jepara yaitu perpaduan seni ukir Majapahit dengan seni ukir Patih Badarduwung yang berasal dari Negeri Cina.

Menurut catatan sejarah Ratu Kalinyamat wafat pada tahun 1579 dan dimakamkan di desa Mantingan Jepara, di sebelah makam suaminya Pangeran Hadiri. Mengacu pada semua aspek positif yang telah dibuktikan oleh Ratu Kalinyamat sehingga Jepara menjadi negeri yang makmur, kuat dan mashur maka penetapan Hari Jadi Jepara yang mengambil waktu beliau dinobatkan sebagai penguasa Jepara atau yang bertepatan dengan tanggal 10 April 1549 ini telah ditandai dengan Candra Sengkala “TRUS KARYA TATANING BUMI” atau “terus bekerja keras membangun daerah”.

Bila menilik pada catatan sejarah tersebut dan perjuangan beliau menghalau pengaruh bangsa portugis maka sudah pantaslah beliau sebagai pahlawan. Bila dibandingkan dengan Sultan Agung yang menyerang belanda di Batavia sebayak dua kali dan sama sama mengalami kegagalan harus diakui bahwa di akui bahwa Jepara pada saat itu bukanlah pusat kekuasaan di Jawa dan bukan pula sebuah kerajaan besar. Jepara pada saat itu hanya merupakan sebuah kadipaten di bawah kekuasaan pajang yang luasnya tidak lebih dari luas Kabupaten Jepara saat ini namun telah berhasil menghimpun kekuatan untuk menyerang bangsa yang di sebut penguasa lautan waktu itu yaitu bangsa portugis. Sebagai penguasa Jepara beliau juga telah banyak berjasa dalam mengembangkan budaya seni ukir Jepara yang merupakan salah satu hasil kebudayaan yang mampu menjadi pahlawan devisa dan kebanggan bagi bangsa Indonesia di mata dunia internasional.

RA Kartini dan Ratu Kalinyamat

Lalu bagaimana dengan R.A Kartini ? pertanyaan itu mungkin akan mengelayut dalam benak kita semua, memang selama ini nama Kartini akan selalu melekat pada Kab Jepara. Bicara Kartini dan emansipasi mau tidak mau akan mengarah pada nama senuah kota ekcil di pesisir utara jawa sebagai tempat kelahirannya karena itulah Kab Jepara mendapat julukan Jepara Bumi Kartini. Sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi, Kartini telah memberi kontribusi yang luar biasa besar terhadap perkembangan kaum wanita di Indonesia. Namun menurut hemat penulis, walauppun Kartini berjasa terhadap perkembangan pemikiran tentang emansipasi wanita namun kontribusi terhadap perkembangan dan kemajuan masyarakat Jepara masih kurang terasa di banding peran yang di mainkan oleh Ratu Kalinyamat terlebih R.A Kartini dalam sisa hidupnya setelah pernikahannya lebih banyak di habiskan di Kota Rembang di bandingkan di Jepara.

Terlebih lagi sangat sulit menentukan kekuatan pengaruh Kartini terhadap kehidupan masyarakat Jepara apalagi besar kemungkinan bahwa pemikiran Kartini tentang emansipasi terilhami oleh sejarah Kota Jepara di masa lalu yang terkenal karena kepemimpinan yang di pegang oleh kaum wanita seperti Ratu Shima pada masa kerajaan Kalingga dan Ratu Kalinyamat pada masa awal awal berdirinya kota Jepara. Pemikiran awal dan pengetahuan sejarah masa lalu serta di dorong oleh pergaulan Kartini dengan orang asing sedikit banyak mampu menciptakan paradigma berpikir Kartini tentang ide kesetaraan gender antara pria dan wanita sehingga dapat disimpulkan bahwa ide dan pemikiran Kartini bukanlah hal yang benar benar baru tetapi menjadi sangat terasa dampaknya bila di hadapkan pada situasi dan kondisi social dan budaya pada masa masa tersebut. Selain terkenal sebagai Bumi Kartini, Kota Jepara juga mempunyai julukan yang tak kalah mentereng yaitu Kota Ukir. Jepara dikenal sebagai kota ukir, karena terdapat sentra kerajinan ukiran kayu ketenarannya hingga ke luar negeri. Kerajinan mebel dan ukir ini tersebar merata hampir di seluruh kecamatan dengan keahlian masing-masing. Kerajinan Ukir merupakan penyangga sendi sendi kehidupan masyarakat Jepara dan menghidupi sebagian besar penduduk kota ini, tak dapat dibayangkan bagaimana jadinya bila Jepara tanpa industry ukir dan mebel maka Kota jepara akan kembali ke era 70an dan menjadi salah satu kota termiskin di Jawa Tengah.

Seorang pahlawan bukan hanya mereka megorbankan jiwa dan raga untuk bangsa dan Negara namun mereka yang mampu meninggalkan catatan membanggakan dan kisah hidupnya akan selalu menjadi teladan bagi generasi berikutnya serta memberi pengaruh yang luar biasa bahkan setelah mereka meninggal. dan bila di era otonomi daerah ini ada peraturan yang member kewenangan bagi setiap daerah untuk menetapkan pahlawan bagi daerahnya masing masing maka selayaknya gelar pahlawan tersebut di sandang oleh Ratu Kalinyamat tidak hanya jasanya sebagai pendiri Kota Jepara namun sebagai orang yang paling berjasa meletakkan cikal bakal kemampuan seni ukir kepada masyakat jepara yang manfaatnya terasa hingga kini sehingga bukan sebuah kebtulan jika Persijap sebagai klub sepakbola kebanggaan masyarakat jepara mendapat julukan Laskar Kalinyamat bukan Laskar Kartini. Terlepas dari apapun kontroversi yang terjadi, bagi orang orang Jepara hanya ada satu pahlawan bagi mereka yaitu Ratu Kalinyamat.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment