Aug 12, 2009

MEMBANGUN EKONOMI DAERAH MELALUI INDUSTRIALISASI PARIWISATA


    1. Ekonomi dan Pariwisata

  1. Dampak Ekonomi Pariwisata

Pariwisata sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi perekonomian. Dengan ekonomi yang maju pariwisata akan berkembang karena didukung oleh kesejahteraan penduduk dan fasilitas daerah tujuan wisata yang memadai. Hal sebaliknya juga dapat terjadi yaitu pariwisata dapat mendorong perekonomian regional dan nasional. Kegiatan pariwisata akan menimbulkan demand akan barang dan jasa yang selanjutnya akan merangsang pertumbuhan produksi.

Sektor pariwisata bukanlah sektor yang berdiri sendiri, tetapi merupakan industri multi sektor. Karena itu maka dampak ekonomi yang ditimbulkan pariwisata juga berdimensi multi sektor. Dampak ekonomi tersebut dapat berupa pertumbuhan industri/usaha yang terkait dengan pariwisata atau industri/usaha yang berkarakteristik pariwisata, peningkatan pendapatan penduduk, kesempatan kerja dan investasi.

Sektor pariwisata berkaitan secara langsung dan tak langsung dengan berbagai sektor perekonomian yang memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang sebagian atau seluruhnya dikonsumsi oleh wisatawan, baik itu wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Dengan demikian berarti pertumbuhan sektor pariwisata dapat dianggap sebagai pendorong laju pertumbuhan sektor-sektor lain termasuk pertanian. Dampak ekonomis pariwisata yang lintas sektor ini bahkan juga melintas multi sektor dalam bentuk pemerataan pendapatan, kesempatan kerja dan investasi.

Pariwisata dalam proses pengembangannya mempunyai dampak yang tidak sama pada daerah atau wilayah yang berbeda. Hal itu terlihat baik dalam lingkup yang besar seperti dalam lingkup negara yaitu antara negara berkembang dengan negara maju, atau dalam lingkup yang lebih sempit yaitu dalam lingkup wilayah/propinsi dalam suatu negara.

Perbedaan dampak antar daerah belum tentu merugikan. Bahkan dapat berperan penting dalam mengurangi ketimpangan kerja dan ketimpangan pendapatan antar daerah di dalam suatu negara. Bukankah kerap kali obyek dan daya tarik wisata terutama wisata alam umumnya terletak jauh dari pusat aktivitas perekonomian. Pengurangan tingkat ketimpangan ini dimungkinkan karena aktivitas pariwisata memiliki karakteristik yang tidak dimiliki kegiatan di sektor lain. Konsumenlah yang datang ke produsennya, untuk membelanjakan uangnya pada berbagai barang dan jasa yang ditawarkan masyarakat di daerah wisata.

Jenis kegiatan yang terkait dengan pariwisata serta dampak yang diciptakan, belum diidentifikasi secara jelas dan masih terus menjadi pembicaraan. Selama ini banyak kajian dan analisis hasil pembangunan kepariwisataan yang baru mencakup sebagian aspek dan dilakukan secara terpisah-pisah. Demikian juga metodologi dan indikator yang digunakan masih sederhana, sehingga hasilnya saling tidak konsisten serta kurang akurat. Sudah tentu bila diaplikasikan ke dalam perumusan kebijakan, akan menghasilkan kebijakan yang kurang tajam dan tidak menyeluruh.


  1. Konsep Dampak Ganda (Multiplier Effect)

Konsep Dampak Ganda didasarkan pada hubungan berbagai sektor pembentuk ekonomi yang saling terkait serta memiliki ketergantungan dalam ekonomi lokal. Oleh karenanya, setiap perubahan pada tingkat pengeluaran wisatawan, sebagai salah satu sektor pembentuk ekonomi, akan mempengaruhi industri barang dan jasa. Setiap perubahan seperti pengeluaran wisatawan berpengaruh terhadap tingkat pengeluaran (output), nilai tambah, upah/gaji, ketenagakerjaan (employment), penerimaan negara (government revenue), dan neraca pembayaran. Rasio perubahan dalam setiap variabel diatas terhadap perubahan dalam permintaan akhir (dalam hal ini pengeluaran wisatawan) disebut pengganda (multipllier).

Kompleksitas dari analisis pengganda tergantung dari seluk beluk transaksi yang terdapat pada sektor ekonomi di tiap daerah. Pariwisata mempunyai kompleksitas yang tinggi karena keterkaitannya dengan banyak sektor ekonomi, seperti akomodasi/hotel, restoran, tranportasi, jasa hiburan dan rekreasi serta industri cinderamata. Dampak yang ditimbulkan sektor pariwisata dapat dibagi menjadi tiga yaitu dampak langsung (direct effect), dampak tak langsung (indirect effect) dan dampak ikutan (induced effect). Pada dampak langsung, dampak outputnya akan sama dengan nilai perubahan pada permintaan akhir. Pengeluaran wisatawan secara langsung akan menimbulkan pendapatan bagi industri pariwisata seperti hotel, restoran dan usaha kerajinan. Perkembangan kunjungan wisatawan secara otomatis merupakan pertumbuhan industri pariwisata. Sedangkan dampak tak langsung mengacu pada kelanjutan dari kebutuhan sebuah industri yang mengalami peningkatan permintaan produknya untuk melakukan pembelian dari industri lain yang terkait. Misalnya hotel yang mendapat tamu wisatawan akan membayar gaji atau membeli barang keperluan hotelnya dari pedagang alat rumah tangga. Permintaan dari hotel ini merupakan derivative demand yang tidak berhenti pada pedagang saja tetapi akan terus berlanjut sampai industri hulunya.

Dampak ikutan terjadi karena peningkatan pendapatan, akibat peningkatan permintaan akhir, sebagian akan dibelanjakan untuk konsumsi barang dan jasa yang tidak berkaitan dengan permintaan akhir tersebut. Penjual souvenir akan membelanjakan sebagian pendapatannya untuk memperbaiki rumah, menyekolahkan anak, membeli barang elektronik dan sebagainya. Makin banyak yang dibelanjakan oleh industri pariwisata dan industri terkait untuk berbagai jenis barang dan jasa, makin besar dampak ikutan dari sektor pariwisata. Pemasok barang dan jasa akan meningkat pendapatannya. Peningkatan pendapatan ini akan mendorong lebih lanjut perekonomian masyarakat sehingga kesempatan kerja dan pendapatan makin lama makin meningkat (Sumber Neraca Pariwisata daerah,2005)


    1. Industri Pariwisata

Pariwisata adalah fenomena yang unik dimana wisata menjadi intinya. Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagai dari kegiatan tersebut yang dilakukan oleh wisatawan (sebutan bagi orang yang melakukan kegiatan tersebut) secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata Pariwisata merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan pengusahaan obyek dan daya tarik wisata serta usaha-usahanya yang terkait dibidang tersebut yang pada pada dasarnya mengandung beberapa unsur yaitu:

  1. Manusia, baik sebagai pelaku maupun sebagai penyedia jasa

  2. Kegiatan dengan beragam tujuan atau motivasi perjalanan.

  3. Interaksi antara wisatawan dengan wisatawan, wisatawan dengan tuan rumah, dan wisatawan dengan penyedia jasa


Pariwisata adalah kegiatan dinamis manusia dalam mengisi waktu luangnya dengan hal-hal yang menyenangkan termasuk berwisata dengan motivasi kultural. Saat berwisata, wisatawan tentunya ingin dilayani untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Mereka melakukan kontak sosial terutama dengan tuan rumah dan penyedia jasa. Interaksi sosial dan multikulturalisme menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari dan lintas budaya pun menjadi kondisi yang tidak bisa dipungkiri apalagi dengan pergerakan kegiatan wisata yang mengarah pada globalisasi maka lintas budaya pasti akan terjadi.

Menurut Nyoman S pendit, untuk membangun industri pariwisata dibutuhkan sepuluh unsur yang meliputi :

  1. Politik pemerintah

Yang dimaksud dengan politik pemerintah dalam hubungannya dengan industri pariwisata adalah sikap pemerintah terhadap kunjungan wisatawan ke negeri yang bersangkutan. Dalam hubungan ini ada dua faktor penting yang saling terkait yaitu faktor langsung dan faktor tidak langsung. Faktor langsung yang dimaksud adalah sikap pemerintah terhadap kunjungan wisatawan ke negara bersangkutan dan faktor tidak langsung adalah adanya situasi yang stabil dalam bidang sosial, politik, ekonomi dan keamanan negara tersebut

  1. Perasaaan Ingin tahu

Pada dasarnya hakikat yang paling medasari adanya pariwisata adalah rasa ingin tahu manusia yang merupakan bawaan lahir, sebagai makluk yang serba ingin mengetahui segala sesuatu selama ia hidup, manusia akan berusaha untuk tahu sesuatu di luar dirinya termasuk tentang kebudayaan di negeri asing, cara hidup dan adat istiadat, keindahan dan keajaiban alam dinegara lain.

  1. Sifat ramah tamah

Keramahtamahan sangat identik dengan sifat terbuka terhadap segala sesuatu termasuk terhadap wisatawan asing. Sifat ramah tamah merupakan ”investasi tidak nyata” dalam arti sesungguhnya karena dalam dunia pariwisata sifat ramah tamah memiliki daya tarik tersendiri.

  1. Jarak dan waktu ( aksesbilitas)

Seorang wisatawan merupakan seorang asing yang jauh dari rumahnya sehingga ketika dia mengadakan perjalanan wisata dia tentunya berharap kecepatan, ketepatan dan kelancaran selama menuju, di dan dari objek wisata berjalan sebagaiaman mestinya

  1. Atraksi

Dalam dunia pariwisata segala sesuatau yang menarik dan bernilai untuk dikunjungi dan dilihat disebut ”atraksi” atau lazim disebut objek wisata. Dalam kegiatan pariwisata atraksi atraksi ini harus dikoordinasikan dalam suatu paduan yang harmonis, menarik dan mengagumkan. Dengan kata lain, berbagai atraksi disajikan secara terpadu dengan latar belakang panorama keindahan alam, peninggalan budaya yang bercita rasa seni tinggi atau pertunjukan seni modern yang spektakuler

  1. Akomodasi

Sebagai unsur yang dibutuhkan, akomodasi merupakan faktor yang sangat penting, ia merupakan ”rumah sementara” bagi sang wisatawan sejauh atau sepanjang perjalanannya memutuhkan dan mengharapkan kenyamanan, keamanan, pelayanan, kebersihan serta segala hal kebutuhan hidup sehari hari yang layak

  1. Transportasi

Seperti halnya akomodasi, faktor pengangkutan merupakan faktor penting yang membutuhkan syarat syarat seperti jalanyang baik, lalu lintas yang lancar, alat transportasi yang cepat dan mudah dijangkau

  1. Harga harga

Dalam menentukan tarif jasa hendaknya pengelola mematok harga sesuai dengan fasilitas dan pelayanan yang ditawarkan sehingga tidak memberatkan wisatawan. Karena siapapun pasti menginginkan produk dan jasa yang berkualitas dengan biaya rendah.

  1. Publisitas dan promosi

Merupakan suatu bentuk propaganda dalam rangka meningkatan rasa ingin tahu dan daya tarik wisatawan. hendaknya kegiatan ini dilakukan secara teratur dan kontinyu dengan disertai jargon dan semboyan untuk menggugah semangat dan pemanfaatan media massa secara optimal

  1. Kesempatan belanja

Kesempatan belanja atau shopping merupakan kesempatan untuk membeli barang, oleh oleh atau souvenir untuk dibawa pulang wisatawan ke tempat asalnya masing masing. Hal ini merupakan hal yang sangat wajar apabila seorang wisatawan menunjukkan souvenir atau oleh oleh khas kepada keluarga, sanak saudara dan relasi sebagai bukti bahwa ia telah mengadakan perjalanan wisata

Bagi suatu negara atau daerah unsur unsur tersebut hendaknya dijadikan perhitungan dan pertimbangan dalam menyusun program pariwisatanya.

Selain hal tersebut dalam membangun industri pariwisata ada beberapa faktor, kriteria serta pertimbangan persyaratan penelitian daya tarik pariwisata yaitu :

No

Faktor

Kriteria

Pertimbangan

1

Alam

Keindahan

Topografi umum objek wisata

Iklim

Sinar matahari, suhu, cuaca,dll

2

Sosial budaya

Adat istiadat

Pakaian, makanan, pesta rakyat, dll

Seni bangunan

Arsitekstur bangunan setempat seperti candi, pura, monumen dll

Pentas dan pagelaran festifal

Gamelan, musik, seni tari, pekan olah raga, dll

Pameran dan pekan raya

Pekan pekan raya bersifat komersil

3

Sejarah

Peninggalan purbakala

Bekas istana, kota tua, banguan tua, legend a dan dongeng, dll

4

Agama

Kegiatan masyarakat

Kegiatan ibadah, upacara adat dll

5

Fasilitas rekreasi

Olah raga

Berburu, memancing, mendaki,dll

Edukasi

Museum, kebun binatang, planetarium dll

6

Fasilitas kesehatan

Untuk istirahat, berobat, ketenangan

Spa mineral, spa air panas, tempat piknik dll

7

Fasilitas belanja

Beli ini itu

Toko souvenir, toko kelontong Pusat souvenir dan cinderamata dll

9

Fasilitas hiburan

Hiburan malam

Kasino, night club, bioskop,theater dll

10

Infrastruktur

Kualitas wisata

Jalan jalan raya, taman, listrik, air, komuikasi, kendaraan umum,dll

11

Fasilitas pangan dan akomodasi

Restoran dan penginapan

Hotel, motel, villa, cafe, dll



Reactions:

0 comments:

Post a Comment