Sep 18, 2010

Sustainable Growth Rate VS pertumbuhan


Sejak diperkenalkan pada tahun 1977 oleh Robert C Higgins dalam bukunya “How Much Much Growth Can A Firm Afford” berbagai model sustainable growth telah diperkenalkan dan dikembangkan namun yang paling sering dijadikan sumber rujukan adalah model yang dikembangkan oleh Van Horne, Ross dan Jordan. Tingkat pertumbuhan yang ditentukan dengan hanya melihat kemampuan keuangan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tingkat pertumbuhan atas kekuatan sendiri (internal growth rate) dan tingkat pertumbuhan berkesinambungan (Sustainable Growth rate). Internal growth rate merupakan tingkat pertumbuhan maksimum yang dapat dicapai perusahaan tanpa membutuhkan dana eksternal atau tingkat pertumbuhan yang hanya dipicu oleh tambahan atas laba ditahan (Ross dan Jordan 2000:103)
Kebanyakan  manager keuangan menyadari bahwa untuk menghasilkan keuntungan dibutuhkan juga pendanaan. Pertumbuhan penjualan yang cepat menimbulkan konsekuensi pada peningkatan aset dalam bentuk piutang, persediaan dan aktiva tetap yang pada gilirannya dibutuhkan dana untuk membiayai aset tersebut. Mereka juga tahu jika perusahaan tidak mempunyai dana ketika dibutuhkan maka perusahaan akan mengalami kemandegan atau yang lebih terkenal dengan istilah “grow broke”. Hubungan tersebut secara eksplisit dapat dijelaskan melalui model sustainable growth rate. (Ross dan Jordan 2000:115).
Sustainable growth rate sering digunakan oleh bankir dan analisis eksternal untuk mengetahui kelayakan kredit suatu perusahaan. Bankir menggunakan informasi tentang sustainable growth rate dalam beberapa cara seperti dengan membandingkan pertumbuhan penjualan aktual dengan sustainable growth rate akan dapat diketahui isu isu apa saja yang akan menjadi agenda utama manajer keuangan. Jika penjualan aktual secara konsisten melebihi melebihi sustainable growth, maka permasalahan yang dihadapai oleh manajemen adalah darimana dan bagaimana cara mendapatkan dana untuk membiayai pertumbuhan. Dengan demikian bankir dapat mengantisipasinya dengan menawarkan produk produk pinjaman, sebaliknya jika sustainable growth rate secara konsisten melebihi pertumbuhan aktual maka bankir lebih baik membicarakan produk produk investasi karena permasalahan yang dihadapi oleh manajemen adalah apa yang harus dilakukan terhadap semua kelebihan dana yang terus menumpuk. Bankir juga dapat memanfaatkan model sustainable growth rate untuk menjelaskan kepada pemilik usaha kecil yang kurang berpengalaman dalam bidang keuangan serta pengusaha yang terlalu optimis bahwa demi keberlangsungan usaha mereka dalam jangka panjang adalah sangat penting untuk menjaga pertumbuhan dan profitabilitas berada pada keseimbangan yang sesuai (Ross dan Jordan 2000:115).
Pemahaman tentang manfaat dan fungsi sustainable growth rate sebagai pengendali pertumbuhan dan alat perencanaan keuangan yang efektif tidak akan terlepas dari kemampuan kita dalam memahami bagaimana fungsi keuangan berperan dalam operasionalisasi perusahaan dalam mencapai tujuannya. Perusahaan sebagai sebuah badan usaha yang profit oriented bertujuan untuk memakmurkan pemiliknya. Demi mencapai kemakmuran maka dua kunci pokoknya adalah profitabilitas dan keberlangsungan usaha, profitabilitas berarti perusahaan harus berusaha menciptakan dan meningkatkan laba sebagai imbal jasa kepada pemilik perusahaan atas modal yang mereka berikan pada perusahaan dan keberlangsungan usaha berarti bahwa perusahaan tidak didirikan untuk jangka waktu tertentu sehingga dapat terus memberi kemakmuran kepada pemilik perusahaan secara terus menerus.
Perusahaan dalam rangka mendapatkan laba akan membutuhkan dana untuk membeli aktiva yang diperlukan untuk memproduksi barang dan jasa, aktivitas ini sebut kegiatan investasi. Pendanaan untuk kegiatan investasi tersebut dapat berasal dari pemilik perusahaan atau dalam bentuk hutang serta dari penyisihan laba yang tidak dibagikan kepada pemilik perusahaan. Keberlangsungan hidup perusahaan sangat bergantung pada bagaimana tingkat kebutuhan dana dan sumber dana berjalan seimbang, dengan kata lain kebutuhan dana untuk membeli aktiva perusahaan harus sebanding dengan kemampuan perusahaan menyediakan dana tersebut.
Tinggi rendahnya angka SGR sangat dipengaruhi oleh empat faktor yaitu:
1.    Profit margin. Tingginya tingkat profit margin akan meningkatkan kemampuan perusahaan memperoleh dana internal sehingga meningkatkan angka pertumbuhan berkesinambungan.
2.    Kebijakan dividen. Penurunan angka persentase laba bersih yang didistribusikan sebagai dividen akan meningkatkan angka laba yang ditahan (retention ratio), sehingga meningkatkan dana internal (equity) dan sekaligus meningkatkan angka pertumbuhan berkesinambungan.
3.    Kebijakan keuangan. Peningkatan rasio hutang terhadap modal (debt to equity ratio) akan meningkatkan leverage keuangan (equity multiplier) perusahaan dan apabila tambahan hutang tersedia maka akan meningkatkan angka pertumbuhan berkesinambungan.
4.    Total asset turn over. Peningkatan asset turn over akan meningkatkan angka penjualan yang diperoleh dari peningkatan aktiva. Peningkatan asset turn over menunjukkan meningkatnya efektivitas penggunaan aktiva dalam mencapai penjualan sehingga akan menurunkan penambahan aktiva yang akhirnya akan meningkatkan angka pertumbuhan berkesinambungan (Ross dan Jordan,2000:104-105)
Hubungan antara empat faktor tersebut secara eksplisit dapat dilihat pada gambar berikut 




Profit margin didapat dari laba dibagi dengan nilai penjualan selama 1 tahun terakhir. Profit margin merupakan nilai sisa dari jumlah dana telah dibayarkan untuk biaya operasional perusahaan. Jadi, bila sebuah perusahaan ingin meningkatkan profit margin-nya, yang harus dilakukan adalah mengendalikan sedemikian rupa biaya-biaya yang ditimbulkan dari kegiatan operasional perusahaan.
Deviden merupakan bagian laba bersih yang menjadi hak pemegang saham. Pembagian deviden merupakan bentuk implementasi dari tujuan perusahaan yaitu memakmurkan pemilik perusahaan. Pada dasarnya laba bersih yang diperoleh perusahaan dapat dibagi sebagai deviden (lihat panah 4) atau ditahan untuk diivestasikan kembali ke perusahaan. (lihat panah 4b). Kebijakan deviden menyangkut tentang masalah penggunaan laba yang menjadi hak pemegang saham tersebut yaitu apakah laba dibagi sebagai deviden?  Apakah laba tersebut ditahan? Apakah sebagian dibagi sebagai deviden dan sebagian ditahan? Berapa persentasenya? Kapan laba harus dibagikan dan kapan harus ditahan? Kebijakan deviden merupakan kebijakan yang tidak mudah di satu sisi penurunan laba yang dibagikan sebagai deviden akan meningkatkan pendanaan perusahaan yang dapat digunakan untuk berinvestasi dan meningkatkan pertumbuhan namun di sisi lain deviden tersebut merupakan hal pemilik perusahaan. Kebijakan deviden yang ditempuh perusahaan dapat diketahui dengan menghitung rasio deviden payout dan retention rate atau plowback ratio –nya. Plowback ratio merupakan rasio yang menunjukkan tingkat keuntungan yang tidak dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen. Plowback ratio juga merupakan rasio yang menunjukkan perbandingan antara perubahan laba ditahan dengan laba bersih setelah bunga dan pajak. Jika plowback ratio menunjukkan angka positif berarti dari laba yang dihasilkan sebagian ditanamkan kembali kedalam perusahaan, laba yang tidak dibagikan ini akan menambah jumlah modal sendiri
Berdasarkan penjelasan diatas dapat dipastikan bahwa sustainable growth rate atau tingkat pertumbuhan yang berkelanjutan berbeda dengan konsep pertumbuhan yang hanya mengukur perubahan sizeSustainable growth rate atau tingkat pertumbuhan yang berkelanjutan lebih merupakan konsep yang mampu menselaraskan dan memadukan arus dana dan penggunaan dana serta membuat batas maksimum dari sebuah tingkat pertumbuhan berdasarkan kemampuan keuangan perusahaan. Sustainable growth rate atau tingkat pertumbuhan yang berkelanjutan dari tiap tiap perusahaan dapat saja berbeda dikarenakan kharakteristik khusus yang dimiliki masing masing perusahaan. (ukuran) saja.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment