Aug 15, 2010

Shima, Kalinyamat dan Kartini jadi Inspirasi

Jepara dikenal dengan latar belakang sejarah kepemimpinan perempuan yang hebat. Diawali Ratu Shima dengan kerajaan Kalingganya pada abad 8 Masehi, Ratu Kalinyamat pada Abad 16, dan RA Kartini pada Abad 19 dan 20.
Namun, tokoh-tokoh tersebut hingga sekarang seolah hanya menjadi cerita. Sebab, belum nampak generasi pelanjutnya. Jangankan untuk posisi jabatan Bupati, untuk jabatan level di bawahnya pun masih didominasi kaum lelaki.
"Kami memandang, kendala kaum perempuan untuk menjadi pemimpin di Jepara justru datang dari kaumnya sendiri. Kenyatannya, banyak perempuan yang lebih mendukung kaum lelaki," ujar Wakil Ketua PCNU Kabupaten Jepara KH Adib Khoiruzzaman, saat membuka seminar, ''Menggagas Pemimpin Jepara dari Perempuan,'' yang diseleggarakan PC Fatayat NU di Gedung NU Jl Pemuda No 51 Jepara, Jumat (23/4).
Untuk menguatkan pandangannya, Adib mengambil contoh yang sepele. "Tadi sewaktu perempuan tampil ke panggung tidak diberi tepuk tangan. Giliran saya tampil, tepuk tangan sangat meriah," ujarnya sambil tertawa.
Dikatakan, untuk menjadi pemimpin Jepara, terutama dalam Pemilu kepala daerah 2012 mendatang, masih berat. Untuk tampil, calon pemimpin perempuan paling tidak harus bisa merangkum segala keunggulan para tokoh perempuan Jepara yang telah berjaya di masa lalu.
Ratu Shima dengan sikap tegas dan adil dalam menegakkan aturan. Ratu Kalinyamat, yang terkenal cantik, kaya raya dan berani, serta memiliki wawasan global. Buktinya, berani menyerang Portugis di Malaka dua kali, dengan armada lautnya.  Dan RA Kartini, yang lahir di Mayong, 21 April 1879, perempuan keturunan ningrat yang sangat peduli akan nasib bangsa. Langkahnya untuk mendidik kaum perempuan, dan peduli dengan nasib kawula alit dengan pemberdayaan ekonomi melalui pengembangan seni ukir, sebagai perwujudan kepedulian yang besar kepada masyarakat lingkungannya. 
Seminar yang dimoderatori Tri Hana SHI, menampilkan tiga nara sumber. Ir Inah Nuroniah (Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB Kabupaten), Dra Hj Kholilah Mawardi (Ketua PC Muslimat NU), dan Mayadina Rohma Musfiroh SHI MA (Direktur Lakpesdam NU Jepara).
Inah Nuroniah, yang juga mewakili sambutan Bupati Jepara H Hendro Martojo, mengungkapkan, secara umum keberadaan kaum perempuan di Jepara memang masih kalah dengan kaum lelaki. Dia mengambil contoh dari posisi jabatan di Pemda, yang didominasi laki-laki. Dikatakan, baru tahun 2009, ada 2 perempuan yang mendukuki jabatan eselon IIB--setara staf ahli Bupati, asisten Sekda, kepala badan, kepala badan, dan Sekwan.
Dua orang itu, dirinya, dan Sri padmowati SH MSi, menjadi Staf Ahli Bupati.
Menurut Kholilah Mawardi, tidak ada larangan perempuan tampil sebagai pemimpin. Namun, diakuinya tidak mudah. Sebab, syarat kecakapan saja tak cukup. Sebab, sekarang ini segala bentuk pemilihan untuk jabatan, uang lebih berkuasa.
"Dalam Pemilu Legislatif, banyak calon yang cakap, baik laki-laki maupun perempuan, kalah hanya karena tidak punya uang. Kalau sudah begini, apa yang bisa diharapkan. Semuanya kembali kepada masyarakat, terutama kaum perempuan yang dari segi jumlah tidak kalah dari laki-laki," tukasnya.
Maya Dina RM pun sependapat. Untuk menjadi pemimpin Jepara dari perempuan, harus mampu mengambil inspirasi dari segala keunggulan ketiga tokoh perempuan Jepara tersebut. "Kami yakin, jika dapat menangkan inspirasi dari Ratu Shima, Ratu Kalinyamat, dan RA Kartini dapat memimpin Jepara dengan baik," ujarnya.
Ketua Panitia Umi Farida SPd mengatakan, seminar diadakan dalam rangkaian kegiatan ''Gebyar April'' menyambut peringatan ke-60 hari lahir Fatayat NU, peringatan ke-461 Kota Jepara, dan peringatan ke-131 Hari Kartini.
Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Jepara Imronah Hanani SPd berharap dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi kepemimpinan Jepara ke depan. "Awalnya dari wacana dan gagasan, untuk selanjutnya diharapkan ada perempuan yang berani tampil," tukasnya.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment