Feb 16, 2010

BAGAIMANA MENGELOLA MODAL KERJA

Dalam proses produksi suatu perusahaan mengolah bahan baku, menambah nilainya dengan cara merubahnya menjadi produk yang bisa dijual, kemudian menjualnya dan mengirimkan produk itu pada konsumen. Pada setiap tahapan akan ada persediaan bahan baku, bahan setengah jadi, atau barang jadi. Mengikuti aliran uang seringkali lebih sukar daripada mengikuti aliran proses produksi!. Anda tidak harus segera membayar apa yang anda beli. Tetapi anda harus yakin bahwa Anda mempunyai dana yang cukup kalau saat membayar tiba. Anda harus mempunyai dana yang cukup untuk membiayai persediaan, yang termasuk bahan baku, bahan setengah jadi dan barang jadi, dan untuk semua tenaga kerja dan biaya overhead sampai saatnya konsumen membayar anda. (Bahkan usaha jasa juga harus mempunyai persediaan). Pada waktu anda mengirimkan barang (atau jasa) yang anda hasilkan kepada konsumen itu berarti anda sudah menjualnya. Tetapi mungkin anda tidak dibayar pada saat itu juga, pembayaran akan memakan waktu. Pada saat pembayaran itulah Anda baru bisa membayar pemasok, membiayai biaya tetap dan menghasilkan laba. Uang yang terikat dalam bentuk seperti ini disebut “modal kerja”.

Modal kerja bisa sukar dikendalikan. Bisa saja perusahaan melayani permintaan yang besar akan produknya, jadi harus membeli lebih banyak persediaan, memproduksi produk lebih banyak, dan menjual lebih banyak – dan laba yang lebih banyak. Tetapi konsumen tidak membayar tepat waktu sedangkan pemasoknya minta cepat dibayar. Dengan kata lain, kebutuhan modal kerjanya sudah bertambah, tetapi pertumbuhan modal kerjanya tidak bisa mengikuti kecepatan pertumbuhan penjualan itu. Ini disebut “over trading”.

Sebuah perusahaan dikatakan lancar-dana (solven) kalau mempunyai harta yang mencukupi (uang tunai, persediaan, piutang, harta tetap) untuk menutup kewajibannya (hutang, pinjaman, dsb). Namun demikian, suatu perusahaan harus juga dapat membayar hutang pada waktunya. Kalau dana tidak mencukupi, atau kalau tidak ada harta yang segera dijual menjadi uang tunai (keduanya disebut harta lancar) maka perusahaan ini dianggap tidak solven (insolven). Melakukan perdagangan dengan mengetahui bahwa perusahaannya tidak solven merupakan pelanggaran hukum, jadi anda harus berhati-hati.

Kalau penjualan relatif stabil, dan jangka waktu penagihan dan pembayaran juga tetap, maka terciptalah keseimbangan antara harta lancar dan kewajiban jangka pendek. Kalau tiba-tiba konsumen terlambat membayar atau kalau pemasok minta pembayaran dipercepat, atau kalau penjualan mulai meningkat, maka perusahaan akan membutuhkan tambahan modal kerja. Perusahaan biasanya menggunakan laba yang ditahan untuk menutup kebutuhan ini, tetapi kalau itu juga tidak cukup maka perlu tambahan dana dari luar.

a. Mendanai Modal Kerja

Hanya kalau tersedia cukup modal penyertaan dalam perusahaan (bisa berupa modal yang ditanamkan atau laba yang ditahan), maka modal kerja biasanya diperoleh dari pemberi hutang dagang (bank komersil) atau penarikan lebih dari batas yang ditetapkan oleh bank (overdraft). Overdraft harus dibayar segera kalau diminta oleh bank. Anda juga harus membayar biaya administrasi, tetapi anda hanya akan membayar bunga atas saldo hutang saja. Walaupun bunga overdraft ini lebih tinggi daripada hutang berjangka, biaya keseluruhannya bisa saja lebih rendah. Bank bisa juga meminta jaminan pribadi. Besarnya overdraft yang dibutuhkan tentu saja tergantung pada kebutuhan modal kerja dan harus disetujui sedikitnya setiap tahun dengan manajer bank.

Harta lancar dikurangi hutang jangka pendek yang ditunjukkan dalam neraca perusahaan adalah modal kerja perusahaan. Tetapi neraca hanya menunjukkan potret perusahaan pada suatu saat saja. Ramalan aliran tunai memberikan gambaran yang lebih tepat. Bahkan inipun, bisa salah. Penerimaan pembayaran bisa tertunda dua atau tiga minggu, sehingga meningkatkan kebutuhan modal kerja ditengah bulan, walaupun ini tidak tercatat pada laporan akhir bulan.

Ada perusahaan seperti perusahaan pengecer (retail) yang mempunyai uang tunai positif. Artinya, mereka menerima pembayaran langsung pada waktu menjual barangnya tetapi membayar pemasoknya 30, 60, atau bahkan 90 hari sesudah pasokannya sampai di perusahaan. Perusahaan seperti ini biasanya dapat mendanai modal kerjanya seluruhnya dari hutang dagang. Untuk kebanyakan perusahaan pembayaran oleh pembeli hanya dilakukan setelah ada tagihan. Sebagai patokan, usahakan modal kerja yang sesedikitnya dengan cara rata-rata penjualan setiap bulan dikalikan dengan berapa bulan waktu untuk penagihannya.

Cara lain untuk mendanai modal kerja adalah dengan cara factoring atau invoice discounting. Perusahaan yang bergerak dalam jasa factoring akan meminta semua tagihan perusahaan (kepada konsumen) anda dan segera membayar sekitar 80% dari nilai tagihan itu kepada anda. Sisanya, dikurangi dengan biaya komisi, akan dibayarkan setelah konsumen membayar pada perusahaan factoring itu. Jadi factoring merupakan cara yang mahal untuk mempercepat aliran tunai perusahaan kecil. Umumnya, cara ini cocok untuk tagihan diatas Rp 400 juta per bulan.

b. Mendanai Harta Tetap

1) Dana Pinjaman

Harta tetap ditentukan oleh lama penggunaannya dan membutuhkan pendanaan jangka menengah atau panjang. Peralatan dan permesinan biasanya didanai selama tiga sampai tujuh tahun dari pinjaman bank atau dari modal sendiri. Jangka waktu berlakunya kontrak pinjaman sebaiknya ditetapkan sama dengan umur mesin. Sewa dan sewa-beli juga cocok untuk mendanai harta jangka menengah. Untuk bangunan, yang mempunyai umur panjang (misalnya 60 tahun) pendanaan jangka panjang berupa hipotik yang biasanya mendanai 75% kebutuhan. Bunga pinjaman mengurangi pajak. perusahaan

2) Modal Penyertaan

Perusahaan yang mapan dapat mendapatkan hutang jangka panjang berupa debenture atau saham pinjaman yang bisa dialihkan (convertible loan stock)., yang biasanya dengan bunga tetap dan dibayarkan secara penuh pada akhir masa berlakunya. Debentures bisa menetapkan bahwa pinjaman itu dirubah menjadi saham.Modal penyertaan, atau modal pemegang saham, adalah uang yang ditanamkan kedalam perusahaan oleh perorangan atau siapa saja yang bersedia menanamkan modalnya dengan harapan untuk mendapatkan keuntungan di kemudian hari. Untuk sebuah PT, modal penyertaan diganti dengan saham. Kalau perusahaan berhasil, direktur akan mengumumkan dividen setiap tahun. Kalau perusahaan sangat berhasil maka saham dapat diperdagangkan dalam Pasar Saham sehingga memiliki saham perusahaan ini akan sangat menguntungkan dengan menjual sahamnya. Dividen dibayarkan setelah laba dikurangi pajak perusahaan.

Contoh:
Anda menanamkan $1.000 pada sebuah perusahaan yang akan membayar bunga 5 persen. Anda tidak menanamkan kembali bunganya. Pada akhir tahun kelima, dengan mengabaikan inflasi, anda tetap akan mempunyai $1.000. Sekarang anda mempunyai $1.250 karena bunganya 5 persen pertahun.

Sekarang misalnya anda menggunakan uang $1.000 itu untuk membeli saham di sebuah pasar saham. Setiap tahun anda menerima dividen 3 persen dari uang itu. Tambahan lagi, kalau anda berhati-hati, anda akan mendapat kenaikan nilai saham itu (disebut capital gain).. Misalkan pada akhir tahun kelima anda menjual saham itu seharga $2.000. Jadi anda mendapat $2.150 yang berarti internal rate of return (IRR = tingkat pengembalian internal) sebesar 17 persen!.

Penanam modal dari luar biasanya mengharapkan IRR sebesar 35 atau 40 persen. Dari contoh ini anda dapat menyimpulkan bahwa manfaat terbesar justru dari penjualan saham itu, bukan besarnya dividen. Hal ini perlu anda pertimbangkan pada waktu anda mengundang investor luar membeli saham perusahaan anda.

Ada tiga cara penanam modal mendapatkan uang – dengan menjual kembali sahamnya kepada pemiliknya semula (pada anda), dengan menjualnya kepada orang lain, atau dengan mengambangkannya.

3) Sewa

Bisa saja perusahaan membeli peralatan dengan cara sewa atau sewa-beli. Perusahaan sewa beli perlu mengetahui aliran kas anda dan apakah anda akan dapat melaksanakan pembayarannya. Peralatan itu menjadi milik perusahaan sewa-beli itu; anda mendapat hak untuk menggunakannya untuk jangka waktu kontrak asalkan anda rajin membayar cicilannya. Pada akhir masa sewa, peralatan itu dikembalikan kepada perusahaan sewa-beli itu walaupun seringkali bisa dibeli dengan harga rendah.

B. Biaya Relatif

Dalam mempertimbangkan cara pendanaan perlu diperhitungkan berapa biaya masing-masing pendanaan itu. Penanam modal dari luar mengharapkan dividen atau keuntungan dengan menjual sahamnya. Biasanya mereka mengharapkan manfaat keseluruhan sebesar 35-40 persen dari uang yang ditanamkannya. Namun demikian dividen tahunan bisa saja hanya 5 persen dari uang yang ditanamkannya. Manfaat lainnya datang dari penjualan saham di pasar saham bukan datang dari perusahaan.Hutang, tergantung pada kemampuan negosiasi dan agunan anda, bisa memerlukan biaya 15%. Tetapi bunga pinjaman mengurangi pajak perusahaan sehingga hutang bisa lebih murah dari menjual saham.

Akhirnya, ada juga biaya untuk menggunakan laba yang ditahan. Ini merupakan opportunity cost – manfaat yang hilang karena tidak ditanamkan ditempat lain (atau disimpan di bank). Hutang dari bank biasanya membutuhkan jaminan sehingga tidak semua kebutuhan dana bisa dipenuhi dari hutang bank. Yang terpenting untuk keberhasilan perusahaan, dalam jangka panjang, manfaat uang yang ditanam harus lebih besar dari biayanya.

Jaminan (gearing)

Biasanya bank menghendaki jaminan satu-satu. Jaminan gearing adalah prosentase hutang terhadap kebutuhan dana; lebih besar jaminan gearing, makin besar hutang terhadap modal penyertaan. Segera setelah perusahaan Anda berkembang maka perlu menyediakan lebih banyak uang sebagai modal penyertaan atau dengan menahan lebih banyak laba untuk pengembangan usaha.

Penjaminan perusahaan ini mempunyai dampak penting dalam pemanfaat modal anda. Satu-satunya cara untuk meningkatkan efisiensi penggunaan modal anda adalah dengan menggunakan dana itu lebih keras. Ini tidak mudah. Salah satu cara adalah dengan menggunakan modal penyertaan lebih sedikit dan menggunakan lebih banyak hutang. Marilah kita melihat sebuah contoh, membandingkan manfaat modal penyertaan (return on equity = RoE) yaitu manfaat investasi anda, dan manfaat modal yang digunakan (return on capital = RoCE), yaitu investasi ditambah hutang.

Dengan mangebaikan dampak pajak, Perusahaan A menggunakan modal $20.000, semuanya dalam bentuk modal penyertaan dan mendapat laba $5.000. Jadi RoCE adalah 25 persen. RoE adalah 25 persen. Perusahaan B menggunakan modal $20.000; setengahnya berupa modal penyertaan dan sisanya dipinjam dari bank dengan bunga 12,5 persen. Perusahaan B juga mendapat laba $5.000 sehingga RoCE juga 25 persen. Bunga bank mengurangi keuntungan menjadi $3.750 sehingga RoE adalah 38 persen, jauh lebih besar dari perusahaan A!.

Perusahaan C juga menggunakan modal $20.000, tetapi hanya $2.000 berupa modal penyertaan dan $18.000 merupakan hutang bank dengan bunga juga 12,5 persen. Labanya juga $5.000 dan RoCE juga 25 persen. Bunga bank mengurangi laba menjadi $2.750 tetapi sekarang RoE menjadi 138 persen!

Kalau RoCE jatuh dibawah biaya meminjam maka keuntungannya berbalik.

- Perusahaan D menggunakan modal $20.000, semuanya modal penyertaan. Labanya $2.000 sehingga RoCE adalah 10 persen.

- Perusahaan E menggunakan modal $20.000, setengahnya hutang bank dengan bunga 12,5 persen. Laba sebelum bunga $2.000 berkurang menjadi $750 setelah bunga $1250 dikurangkan menjadikan RoE sebesar 8 persen.

- Perusahaan F menggunakan modal $20.000, dimana $18.000 adalah hutang bank dengan bunga 12,5 persen. Laba $2.000 menghasilkan RoCE sebesar 10 persen, tetapi ada masalah. Bunga yang harus dibayar adalah sebesar $2.250 sehingga biaya keseluruhannya adalah sebesar $250.

Akibatnya, penanam modal penyertaan yang tidak harus menanggung kerugian menghendaki jaminan setinggi mungkin untuk mendapat manfaat sebesar-besarnya dari lebih besarnya RoCE daripada bunga pinjaman. Sebaliknya, pemberi hutang, menghendaki sebaliknya yaitu pada kemampuan perusahaan untuk membayar bunga akan meminta jaminan sekecil-kecilnya.

Kesimpulan

Penting untuk mencari dan mempertahankan keseimbangan antara modal penyertaan dan hutang. Banyak perusahaan mulai usahanya dengan hutang yang besar dan kemudian mendapatkan kesulitan untuk mencari dana tambahan kemudian karena jaminannya terlalu tinggi. Awasilah total kebutuhan pendanaan – usahakan suatu keseimbangan yang wajar. Ingatlah bahwa anda harus mencapai tujuan RoCE lebih besar dari biaya mendapatkan dana – baik berupa modal penyertaan atau hutang. Dan jangan takut untuk mendapatkan modal penyertaan dari pihak ketiga. Kalau dana ini memang dapat membantu perusahaan untuk berkembang cepat maka selain penanam modal beruntung, andapun akan beruntung juga.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment