Aug 29, 2009

Sepuluh Unsur Kepribadian Billionaire

Minggu lalu saya berada di New York City, tepatnya Manhattan, yang
jaraknya kurang lebih 2500 mil dari kediaman saya di San Francisco
Bay Area. Seorang “mogul” alias pengusaha kelas kakap yang berteman
dekat dengan Donald Trump memanggil saya untuk membantunya dalam
mendirikan divisi baru institusi pendidikannya yang sudah mendunia.
Sebutlah namanya Mr. JC.

Sebagai seorang konsultan yang sering mendengar nama Mr. JC ini
disebut-sebut, tentu saja saya sangat girang ketika dikontak oleh
asistennya untuk mengunjungi Si Mogul ini untuk business meeting.
Dengan harap-harap cemas saya mempersiapkan segala sesuatunya agar
presentasi saya nanti tidak memalukan. Namanya saja berbisnis dengan
seorang pengusaha kelas kakap. Siapalah saya ini di matanya.

Ternyata, di luar dugaan saya, Mr. JC sangat ramah dan informal.
Kecerdasannya tampak jelas dari “being comfortable in his own skin.”
Ia sangat nyaman dengan dirinya sendiri, tidak ada unsur intimidasi
maupun berusaha tampak lebih cerdik daripada lawan bicaranya. Sungguh
saya sangat terkesan.

Selama kurang lebih 6 jam perjalanan pulang di pesawat, saya banyak
merenungkan pertemuan ini, terutama mengenai kepribadian Mr. JC yang
sangat menawan. Otak saya yang gemar melakukan studi komparasi
kembali bekerja. Satu per satu wajah orang-orang sukses muncul di
benak saya. Wah, ternyata banyak sekali kemiripan sifat dan perilaku
mereka dengan Mr. JC, yang tampaknya sangat bertolak belakang dengan
sifat-sifat dan perilaku mereka yang kurang berhasil.

Sepuluh unsur kepribadian seorang billionaire yang saya sarikan
berdasarkan komunikasi dan pergaulan pribadi dengan para billionaies
dan beberapa pengusaha sukses adalah sebagai berikut:

Satu, keberanian untuk berinisiatif.
Di sinilah letak keunikan utama pengusaha kelas kakap dunia. Mereka
selalu punya ide-ide jenial. Sebagai contoh, lihat saja si Raja Real
Estate, kebangkitannya dari bangkrut beberapa tahun yang lalu
sekarang sudah membuahkan lebih dari sekedar kerajaan properti
belaka. Ada boneka Donald, ada seri TV The Apprentice, ada online
university TrumpUniversity.com, bahkan ada t-shirt “You’re Fired” dan
buku-buku best-sellernya. Semua berangkat dari inisiatif belaka, yang
bisa kita pelajari dan tiru.

Dua, tepat waktu.
Selalu menepati janji dan tepat waktu karena ini adalah bukti
kemampuan memanage sesuatu yang paling terbatas di dalam hidup kita,
yaitu waktu. Kemampuan untuk hadir sesuai janji adalah kunci dari
semua keberhasilan, terutama keberhasilan berbisnis. Respek terhadap
waktu merupakan pencerminan dari respek terhadap diri sendiri dan
partner bisnis.

Tiga, senang melayani dan memberi.
Seorang billionaire pasti mempunyai kepribadian sebagai pemimpin dan
seorang pemimpin adalah pelayan dan pemberi. The more you give to
others, the more respect you get in return. Syukur-syukur kalau ada
karma baik sehingga mendapat kebaikan juga dari orang lain. Paling
tidak dengan memberi dan melayani, kita sudah menunjukkan kepada
dunia betapa berlimpahnya kita. Alam bawah sadar kita akan terus
membentuk blue print sukses berdasarkan kemampuan memberi ini.

Empat, membuka diri terlebih dahulu.
Pernah Anda bertemu orang yang selalu mau bertanya soal hal-hal
pribadi tentang orang lain namun tidak pernah mau membuka diri?
Mereka biasanya hidup dalam ketakutan dan kecurigaan, yang pasti
mereka akan sangat sulit untuk mencapai kesuksesan karena dua hal ini
adalah lawan dari unsur-unsur yang membangun sukses. Rasa percaya dan
kebesaran hati untuk membuka diri terhadap lawan bicara merupakan
cermin bahwa kita nyaman dengan diri sendiri, lantas tidak ada yang
perlu ditutupi, sesuatu yang dicari oleh para partner bisnis sejati.
(Siapa yang mau bekerja sama dengan orang yang misterius?)

Lima, senang bekerja sama dan membina hubungan baik dengan para
partner bisnis.
Teamwork jelas adalah salah satu kunci keberhasilan utama. Donald
Trump dan Martha Stewart pun mempunyai tim-tim mereka yang sangat
loyal sehingga mereka bisa mencapai sukses luar biasa. “No man is an
island,” kita semua perlu membangun network kerja yang baik, sehingga
jalan menuju sukses semakin terbuka lebar.

Enam, senang mempelajari hal-hal baru.
Kembali kita mengambil contoh Pak Trump yang baru saja membuka online
university. Apakah beliau adalah ahli pendidikan? Seorang profesor?
Jelas tidak, namun dengan kegemarannya mencari hal-hal baru serta
langsung mengaplikasikannya, maka dunia bisnis semakin terbuka luas
baginya. Dunia bisnis baginya adalah tempat bermain yang luas dan
tidak terbatas. Kuncinya hanya satu: senang belajar dan mencari hal-
hal baru.

Tujuh, jarang mengeluh, profesionalisme adalah yang paling utama.
Lance Armstrong pernah berkata, “There are two kinds of days: good
days and great days.” Hanya ada dua macam hari: hari yang baik dan
hari yang sangat baik. Jangan sekali-kali mengeluh di dalam bisnis,
walaupun suatu hari mungkin Anda akan jatuh dan gagal. Mengapa?
Karena setiap kali gagal adalah kesempatan untuk belajar mengatasi
kegagalan itu sendiri sehingga tidak terulang lagi di kemudian hari.
Hari di mana Anda gagal tetap adalah a good day (hari yang baik).

Delapan, berani menanggung resiko.
Jelas, tanpa ini tidak ada kesempatan sama sekali untuk menuju
sukses. Sebenarnya setiap hari kita menanggung resiko, walaupun tidak
disadari penuh. Resiko hanyalah akan berakibat dua macam: be a good
or a great day (lihat di atas). So, untuk apa takut? Kegagalan pun
hanyalah kesempatan belajar untuk tidak mengulangi hal yang sama di
kemudian hari kan?

Sembilan, tidak menunjukkan kekhawatiran (berpikir positif setiap
saat).
Berpikir positif adalah environment atau default state di mana
keseluruhan eksistensi kita berada. Jika kita gunakan pikiran negatif
sebagai default state, maka semua perbuatan kita akan berdasarkan ini
(kekhawatiran atau cemas). Dengan pikiran positif, maka perbuatan
kita akan didasarkan oleh getaran positif, sehingga hal positif akan
semakin besar kemungkinannya.

Sepuluh, “comfortable in their own skin” alias nyaman dengan diri
sendiri tanpa perlu berusaha
menutup-nutupi sesuatu maupun supaya tampak “lebih” dari lawan
bicaranya. Pernah bertemu dengan billionaire yang rendah diri alias
tidak nyaman dengan diri mereka sendiri? Saya yakin tidak ada.
Kenyamanan menjadi diri sendiri tidak perlu ditutup-tutupi supaya
lawan bicara tidak tersinggung karena setiap orang mempunyai tempat
tersendiri di dunia yang tidak bisa digantikan oleh orang lain.

Saya adalah saya, mereka adalah mereka. Dengan menjadi diri saya
sendiri, saya tidak akan mengusik keberadaan mereka. Jika mereka
merasa tidak nyaman, itu bukan karena kepribadian saya, namun karena
mindset yang berbeda dan kekurangmampuan mereka dalam mencapai
kenyamanan dengan diri sendiri.

Apakah Anda mempunyai kepribadian seorang billionaire? Hanya Anda
yang bisa menjawab. Salam sukses, sampai bertemu di puncak gunung
kesuksesan.[]

Sumber: Sepuluh Unsur Kepribadian Billionaire oleh Jennie S. Bev.
Jennie S. Bev adalah konsultan, entrepreneur, penulis dan edukator
berbasis di San Francisco Bay Area. Baca perjuangan dan prestasinya
di JennieSBev.com.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment