Aug 14, 2009

Koperasi Bisa Atasi Krisis Ekonomi Indonesia

VIVAnews - Guru Besar Universitas Pasundan, Prof. Rully Irawan, krisis ekonomi yang dialami Indonesia, menurut ahli bisa diselesaikan dengan ditumbuh kembangkannya lagi sitem koprasi.

Menurut Rully, beberapa tahun terakhir, perekonomian mengalami kemajuan, jika dibandingkan pada masa awal krisis ekonomi pada 1997 lalu.
"Namun, ketika bicara pemerataan, ekonomi kita mengalami ketimpangan," kata Rully.

Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, lanjut Rully, hendaknya per-koperasi-an di Indonesai kembali di dihidupkan.

"Dalam mengatasi krisisi ekonomi, Amerika dan Jepang, memberlakukan system koperasi. Di Jepang, 99 persen, warganya masuk dalam kelompok koperasi, dan itu terbukti, mampu bangkit setelah dihantam krisis," ujarnya.

Adapun untuk Indonesia, lanjut Rully, perkopreasian di Indonesai telah mati. "Sehingga kita sulit untuk kembali bangkit pasca krisis ekonomi. Sebagai perbandingan, Singapura, 70 persen, warganya masuk koperasi. Dan disana, sedikit demi sedikit, mereka mampu bangkit," tuturnya.

Minimnya minat warga Indonesa terhadap Kopersi, dinilai Rully lebih disebabkan, adanya anggapan terbelakang dari sebagian Masyarakat.

"Mayarakat memiliki asumsi, kopreasi itu terbelakang. Mereka akan sangat bangga ketika belanja di Mal-mal, Namun tidak demikian ketika belanja dan menjadi anggota dalam sebuah koperasi," jelasnya.

Untuk menambah animo masyarakat terhadap Koperasi, jelas Rully perlu adanya dukungan dari pemerintah. "Pemerintah bisa me manaj persaingan yang sehat. Selain itu internal koperasi sendiri, harus berani merubah image yang selama ini menempel pada koperasi," tuturnya.

"Dengan pelarangan berdirinya Mal-mal, tidak akan menyelesaikan masalah. Solusi yang bsia diambil adalah, memperbaiaki cintra koperasi itu sendiri," lanjutnya.

Laporan: Inin Nastain | Subang
• VIVAnews

Reactions:

0 comments:

Post a Comment