Oct 21, 2010

Kakek Bokis Bicara Uang

UANG ITU MADU, TAPI JUGA RACUN. UANG BIASA MENGANGKAT ORANG ke jenjang hidup mulia. Tapi tak jarang -- akibat keserakahan-- uang malah membuat orang jadi dihinakan. Uang mampu menyatukan mereka yang tadinya bermusuhan. Tapi uang pula yang biasanya sukses menggiring persaudaraan ke arah perpecahan, bahkan pertumpahan darah. Kenyataan, uang membuat hidup jadi lebih menyenangkan atau sebaliknya, menciptakan kegelisahan.
Katanya, cinta adalah kebutuhan utama kehidupan. Tapi dalam keadaan tertentu, uang nyatanya lebih dibutuhkan. Dengan uang, hidup jadi lebih aman dan bisa dirancang. Masa depan tak tampak terlalu suram. Apa pun. Bahkan cinta rasanya bisa dibeli. Kepala tegak menatap dunia. Dan senyum selalu mengembang. Tapi kenyataan membuktikan bahwa uang pula yang berhasil membuat orang tega menipu, berbohong, dan menggorok nasib orang lain dengan hati dingin.

Uang bisa membuat orang jadi saling bercuriga. Uang membuat orang tega jadi pengkhianat bagi nuraninya. Hanya harkat, kedudukan dan pangkat yang diincar, tak peduli apa pun caranya, tak peduli berapa banyak orang jadi korban sebagai akibat. Di depan khalayak, banyak orang berpura-pura memandang uang dengan sebelah mata. Tapi jika ada kesempatan, uang itu akan segera diraihnya dengan kedua matanya yang melotot. Bagi mereka, uang adalah segala-galanya. Demi uang, rasa malu cuma omong kosong.
Uang pula yang membuat masa depan banyak orang ditelikung. Uang adalah harga mati. Dan uang tak pernah setia pada majikan. Siapa kuat, dialah bos. Uang yang asal muasalnya hanya alat tukar belaka, kini malah makin diyakini sebagai alat ampuh politik kekuasaan.
Uang juga bisa dicuci, kata mereka yang sudah sukses mengeruk keuntungan lewat cara yang bertentangan dengan nurani dan hukum. Lalu mereka tak segan membuang uang ke kawasan kumuh dan berderama. Katanya demi pengentasan kemiskinan. Lalu mereka mendapat nama dan pemberitaan, sebab pada setiap peristiwa pengentasan kemiskinan itu senantiasa dihadirkan wartawan dari berbagai media. Demi pamrihnya.
Bagi para perampok uang yang agak sedikit elite, biasanya mereka gemar membuang uang, katanya, demi majunya seni dan budaya. Tentu, dengan tak melupakan asa dagang. Keuntungan tetap diperhitungkan, biak uang maupun citra. Sementara itu, disisi lain, merampok (dengan cara halus maupun kasar) tetap mereka jalankan. Dan semua itu demi uang.
Di masa pailit seperti sekarang ini, berbahagialah mereka yang masih memiliki uang. Apalagi jika kursnya semakin melambung. Keadaan dunia tak banyak mempengaruhi. Penderitaan manusia, jauh sangat jauh dan tak terbayangkan. Mereka pikir, dengan uang kebagaiaan bisa dibeli.
Mereka yang sudah lama berhasil menikmati madunya uang, biasanya lebih serakah lagi. Sikapnya adalah jangan sampai menyia-nyiakan uang. Sebab bosa membuat mereka terjeblok ke comberan.
Untuk itu, dengan segala cara uang harus tetap dipertahankan. Jangan sampai berkurang, malah kalau bisa semakin bertambah. Tak soal bagaimana caranya.
Ada kisah tetang Kakek bokis. Dia pernah bilang "Siapa pun berhak punya cita-cita jadi pemimpin bangsa dan negara. Tapi sebelum itu, coba bercermin dulu. Timbang baik-baik perilakumu. Jika kamu masih tega menyerakahi uang seperak dua perak, uang sesungguhnya menjadi hak orang lain, apa masih layak kamu bicara tentang perjuangan bangsa?
Aset bangsa dan negara sungguh tak terhingga. Para pemimpin bangsa dibebani amanah berat itu. Mampukan kamu? Ikhlas adalah kata kuncinya. Tidak serakah adalah jalan lurusnya. Menghargai kemanusiaan harus dianggap sebagai tugas mulia. Dan uang hendaknya jangan sampai berhasil menggoda nurani.
Kakek Bokis, kita, dan uang, kini cuma peta yang ruwet.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment