Aug 29, 2009

KISAH KISAH ORANG SUKSES TANPA GELAR

SUSI PUDJIASTUTI : SUKSES SI TOMBOY

Pengalaman di sekap dalam kamar gelap selama berhari-hari oleh Petugas Laksusda (Pelaksana Khusus Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban Daerah) dan kegagalan untuk mendapatkan surat kelakuan baik telah membuatnya memilih untuk berhenti sekolah. Waktu itu, tahun 1982, perempuan yang lahir 15 Januari 1965 ini, baru duduk di kelas dua SMAN I Yogyakarta. la pun dinyatakan drop out. Dan sebuah perjalanan hidup yang unik pun dimulai.
Selama sekitar delapan tahun ia pontang-pan- ting kerja serabutan dan menghabiskan hidupnya di jalanan. la pernah berkejar-kejaran dengan petugas keamanan, bergulat dengan ombak dan karang, ikut mencari harta karun di Nusakam- bangan. Ganti usaha, ia keliling menembus be- lantara hutan Sumatera mencari sarang burung. Kadang dalam pencarian itu ia menyetir sendiri mobil truknya Tahun 1983, dengan modal Rp 100.000 ia membeli ikan di Parigandaran dan menjualnya sendiri ke mana-mana. Keuntungan dari modal awal itu ditambah hasil kerja serabutan lainnya terus diputar dan dikembangkan hingga bisa membeli ikan dalam jumlah banyak.
Dalam kurun waktu tersebut, hampir setiap subuh ia menunggui nelayan-nelayan yang pulang melaut, membeli ikan mereka, dan membawanya ke Jakarta dengan menyetir sendiri mobil truk- nya. Reny Sri Ayu Arman, yang pernah mewawancarainya, menulis, "Bahkan hal itu dilakukan- nya saat dia hamil hingga kandungannya berusia tujuh bulan" (Kompas Minggu, 16/8/98).
Perempuan tomboy yang tampil sederhana ini (bercelana. jeans atau celana pendek, kaos oblong, kemeja, jam tangan plastik murahan, topi pandan atau rajut, dan wajah yang nyaris polos tanpa make up dan perhiasan) adalah Presiden Direktur PT Andhika Samudra Internasional (ASI), pemegang merek Susi Brand. Lewat ASI ia mengekspor ikan, udang, lobster, dan produk-produk laut lainnya ke Jepang, Singapura, dan Hong Kong. Bahkan khusus lobster untuk Jepang, 46 persen impornya diiakukan ASI.
Itulah sebabnya ketika Letter of Credit (LC) Indonesia banyak ditolak di luar negeri, bulan April 1998 ASI justru dengan mudah mendapat- kan 200.000 dolar AS dari pemesannya di Je- pang dalam bentuk red dose LC. Bulan Oktober sebelumnya ia telah mendapatkan pinjaman tanpa syarat sebesar 30 juta yen. Hal ini menunjukkan bahwa PT ASI sangat mandiri dan tidak di dikte oleh pemesannya. la justru lebih berperan dalam menentukan aturan main yang harus diikuti pemesannya.
Prestasi lain menyangkut kiprahnya untuk produk non chemical treatment. Semua produk yang diekspor (ikan, udang, lobster, dll.) hanya diolah secara tradisional: dicuci dengan air garam, disterilkan lalu dibekukan. Untuk peralatan hanya dicuci dengan air panas. Jepang yang terkenal sangat ketat dalam soal ini, semula menolak cara yang demikian. Namun ia berjuang untuk meyakinkan konsumennya dengan membawa mereka meninjau pabriknya dan memberikan berbagai penjelasan argumentatif. Ia berhasil Pengakuan internasional terhadap cara yang dilakukannya dipublikasikan berbagai media asing, di antaranya majalah perikanan terbesar di Negeri Kanguru, Austasia Aquaculture edisi 1996/1997. Puluhan kontainer yang dikirimnya ke Jepang tak satu pun ditolak.
Susi Pudjiastuti, demikian nama srikandi yang satu ini, memiliki visi yang jelas tentang masa depan perusahaannya. 'Kalau Tuhan merestui, pada saat Susi berusia 40 tahun nanti, PT ASI akan go public dengan komposisi saham sebagai berikut:
30% untuk orang Jepang, 30% untuk dirinya,2,5% dihibahkan untuk karyawan, dan sisanya untuk publik. Visi yang jelas ini diimbangi pula dengan kecintaannya pada lingkungan dan kepedulian sosialnya yang tinggi. Untuk menciptakan industri yang environment friendly, Susi sedang membuat pembangkit tenaga listrik tenaga matahari, yang tak merusak lapisan ozon. Pepohonan, pabrik beratap rumbia, sebagian lantainya terbuat dari kayu, dan kolam ikan merupakan bukti komitmennya untuk membangun industri hijau. Setiap hari limbah pabriknya (kepala dan tulang sisa ikan) ditampung tukang kerupuk dan bakso. Di setiap ruangan terdapat tiga tempat sampah untuk sampah kering, basah, dan plastik. Tiap petang sampah yang bisa dibakar akan dibakar, sisanya dijadikan kompos. Sementara tanah-tanah kosong di sekitar rumah dan pabriknya dijadikan hutan bakau.
Kepedulian sosialnya dinyatakan dengan se- sekali menyetir sendiri truknya bolak-balik meng- angkut orang-orang kampung yang turun dari gunung sekali setahun dan ingin menikmati ke- indahan pantai Pangandaran. Karena mereka tak punya uang, ia yang membayar tiket masuk mereka. Disamping itu para janda dan yatim piatu di sekitar PT ASI selalu kebagian "hadiah Lebaran" berupa 25 kg beras dan uang tunai Rp25.000 per keluarga, dengan memperhatikan,jumlah anggota keluarga tersebut.
Susi memang "tak mampu" menyelesaikan sekolah menengah atasnya di Yogya. Tapi ia mampu membuat pabriknya di Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat, bergerak tanpa henti 24 jam sehari, 30 hari sebulan setahun penuh. Dan mungkin bila tahun 2005 tiba, saat ia menginjak umur ke-40, ia ingin memulai perjalanan yang lain da- lam hidupnya (Bukankah life begins at forty?).
Untuk banyak orang, tak tamat sekolah menengah berarti kiamat. Tapi bagi Susi, "kiamat" itu masih bisa diolah menjadi rahmat dan berkat. Susi, Susi. Maukah engkau menjadi guru bagi putri-putri pertiwi?

Reactions:

0 comments:

Post a Comment